Monday, August 13, 2018

Sang Tai Hoo Dili


Sang Tai Hoo, Sebuah Tempat Penyiksaan di Dili







write by Matheos Messakh|
Satutimor.com, Waingapu
KITA mengenal kamp konsentrasi Nazi Jerman di Auschwitz, Ladang Pembantaian Choeung Ek, dan pusat penyiksaan dan pembantaian Tuol Sleng di Kamboja, tapi banyak yang tidak mengetahui bahwa para serdadu Indonesia melakukan hal serupa di Timor-Leste.
Hanya dalam hitungan hari setelah invasi Indonesia ke Dili, pasukan-pasukan Indonesia telah menjadikan sejumlah gedung yang mereka kuasai di kota itu sebagai pusat-pusat penyiksaan yang keji.
Salah satu tempat yang dijadikan tempat penyiksaan adalah sebuah gedung toko di wilayah Colmera yang dikenal dengan Sang Tai Hoo. Sang Tai Hoo hanyalah salah satu dari sejumlah gedung yang digunakan sebagai tempat interograsi dan penyiksaan. Tempat lain yang juga digunakan untuk kepentingan serupa adalah sejumlah gedung di Pelabuhan Dili[1] dan gedung SOTA[2], bekas penjara Portugis di Balide yang dikenal sebagai Comarca, gedung Tropical[3], dan sejumlah rumah di daerah Farol.
Perlakuan kejam dan penyiksaan dilaporkan secara luas oleh mantan tahanan di semua tempat ini, tetapi pernyataan-pernyataan itu menunjukkan, bahwa setiap lokasi mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Dua dari lokasi penahanan utama pada tahun-tahun awal pendudukan adalah penjara Comarca di Balide dan gedung Sang Tai Hoo di Colmera. Sang Tai Hoo dilaporkan digunakan sejak masa pendudukan sampai tahun 1980, walaupun mungkin masih digunakan pada tahun 1981 sedangkan Comarca tetap digunakan sampai tahun 1999.
Sang Tai Hoo adalah sebuah toko Cina selama masa Portugis di satu-satunya pusat pertokoan di Dili yaitu Colmera. Gedung itu memiliki dua lantai. Lantai bawah terdiri dari dua ruangan dan sebuah garasi dan di lantai atas hanya terdapat dua ruangan sangat kecil dengan ventilasi yang sangat buruk. Ruang di lantai bawah masing-masing menampung sekitar 20 orang tahanan[4] dan jika ruang-ruang ini penuh, para tahanan disekap di lantai atas, tiga orang tahanan dalam satu ruangan. Menurut António Caleres Junior seringkali Sang Tai Hoo menampung sampai 200 tahanan.[5] Kondisi di sana sangat tidak higienis dan tahanan harus buang air di toilet dalam ruangan tersebut.[6] Para tahanan membersihkan toilet itu sendiri. Maria Fatima Maia, yang pernah ditahan di Sang Tai Hoo, mengenang:
“Mereka memindahkan saya ke sel lain yang kondisinya sangat buruk – airnya tersumbat banyak lendir dan kotoran manusia…saya tidak bisa melihat matahari, saya hanya bisa melihat melalui ventilasi, tetapi mereka juga menutup ventilasi itu.”[7]
Militer Indonesia lebih memfungsikan Sang Tai Hoo sebagai pusat interogasi dan penyiksaan daripada sebagai tempat untuk menahan para tahanan. Tahanan-tahanan dari pusat penahanan lain seperti Comarca dibawa ke Sang Tai Hoo untuk diinterogasi.
Francisco Calçona, misalnya, ditangkap dan ditahan segera setelah invasi karena keanggotaannya dalam Fretilin. Ia mengatakan bahwa awalnya ia ditahan di gedung SOTA, namun kemudian ia dipindahkan ke gedung Tropical pada 19 Desember dan setelah itu dibawa ke Sang Tai Hoo untuk diinterogasi. Selama interogasi, ia dipaksa melompat dengan sebuah tongkat kayu yang diapit di belakang lututnya dan lubang hidungnya dimasuki rokok yang menyala. Kemudian para interogator menyuruh dia menjewer telinganya sendiri dan mereka menulis “hau Fretilin” (saya Fretilin) di dahinya dengan cat. Dia juga disuruh memakai helm dan mereka memukul kepalanya dengan besi. [8]
Demikian hanya juga dengan Moises Mesquita de Almeida, seorang anggota Falintil dan kakak laki-lakinya Manuel Soares ditangkap pada November 1976 dan ditahan di Comarca, tetapi kemudian dibawa ke Sang Tai Hoo untuk diinterogasi. Moises mengatakan kepada Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (lebih dikenal dengan singkatan Portugis CAVR) bahwa 12 November 1976, ia telah disiksa dan dianiaya dalam sebuah diinterogasi oleh seorang kolonel Indonesia, T224.  “[Saya] dipukuli, ibu jari kaki saya ditindis di bawah kaki kursi yang diduduki oleh dua anggota ABRI, ditendang di muka yang membuat gigi saya hampir copot, telinga saya dipukul sampai berdarah dan saya menjadi tuli dan bentuk-bentuk siksaan lainnya.”[9]
Seorang mantan tahanan lain, Francisco Soares Henrique mengatakan kepada CAVR:
“Setelah satu bulan di Tropikal kami dipindahkan ke penjara Balide. Di sana setiap hari Senin kami dikeluarkan dan dibawa ke Sang Tai Hoo untuk diinterogasi. Di Sang Tai Hoo kami diperlakukan tidak manusiawi, dipaksa untuk minum air kencing ABRI, dipukul hingga berdarah-darah. Kemudian dipaksa berdansa dengan tahanan perempuan [ia menyebutkan nama namun demi kepentingan etis Redaksi menyembunyikan nama-nama ini] yang hanya bercelana dalam dan BH. Saya ditahan selama tiga tahun dan baru dibebaskan pada tahun 1978”.[10]
Sebagian besar interogasi dilakukan di pojok sebuah koridor, agar tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Di lantai yang sama ada sebuah kantor administrasi, yang kadang juga digunakan untuk interogasi.[11] Para penjaga sengaja tidak mengunci pintu-pintu sel agar mudah untuk membawa pergi tahanan. Maria Fatima Maia (1981) mengatakan kepada CAVR:
“Saya selalu dipanggil mendadak untuk interogasi pada malam hari, dari jam 07.00 malam sampai tengah malam. Setelah diinterogasi saya dibawa ke sel lain yang ada WC-nya. Pagi hari, mereka membawa saya keluar dan memasukkan saya ke gudang yang hanya punya satu lubang di pintu. Setiap pagi mereka memberi makan lewat lubang di pintu itu.”[12]
Sang Tai Hoo tidak dilaporkan dalam pernyataan-pernyataan setelah tahun 1981, barangkali merupakan petunjuk bahwa pusat ini tidak lagi digunakan untuk interogasi dan/atau penyiksaan.
Pola-pola praktik penahanan kelihatan dengan jelas yaitu penggunaan lokasi-lokasi penahanan resmi dan tidak resmi dan dengan menggunakan lokasi-lokasi yang berbeda untuk tujuan yang agak berbeda-beda. Comarca digunakan untuk penahanan jangka panjang dan Sang Tai Hoo atau Tropical untuk interogasi dan penyiksaan. Komando-komando dan basis-basis militer juga seringkali digunakan untuk menahan tahanan, kadang sampai beberapa tahun. Menurut CAVR, pola ini berlangsung selama periode pendudukan.[13]
Pola lain yang muncul, menurut CAVR, adalah pemindahan para tahanan yang terjadi antara beberapa tempat penahanan yang berbeda, yang kadang terjadi dalam satu malam.[14] CAVR menduga perlakuan terhadap para tahanan seperti ini disebabkan oleh fungsi tempat-tempat penahanan untuk tujuan yang berbeda.[15] Juga, interogator yang berbeda mencari informasi yang berbeda atau informasi yang sama dengan cara yang berbeda.
Chiquito Gutteres, seorang mantan tahanan menjelaskan, bahwa jika interogator yang satu tidak memperoleh informasi yang diinginkan, tahanan itu akan dikirim pada interogator yang lain yang menggunakan cara-cara yang lebih kasar lagi. Chiquito ditahan pada tahun 1996 dan dipindah antara beberapa tempat penahanan, menjelaskan:
“Alasan mereka memindahkan saya…pertama karena mereka tidak mendapatkan cukup bukti yang kuat untuk membawa saya ke pengadilan untuk disidang, kedua mereka mengira bahwa SGI Colmera, karena mereka lebih kasar, bisa menyiksa saya untuk mendapat bukti yang kuat, ketiga agar mereka dapat menyiksa saya lebih berat supaya saya menyebutkan nama-nama anggota dan pejuang klandestin di hutan.”[16]
Gedung Sang Tai Hoo sekitar tahun 1950-an. [Sumber: tidak diketahui]
Menurut CAVR, alasan-alasan ini (yaitu untuk memperoleh bukti keterlibatan yang lebih kuat dan juga untuk memperoleh nama orang-orang lain yang terlibat dalam perlawanan) umumnya diterapkan pada dasawarsa 1970-an.
Pola yang paling umum berlaku adalah para tahanan pertama-tama akan dibawa ke pusat-pusat penahanan informal seperti Tropical[17] dan Sang Tai Hoo, yang digunakan untuk interogasi dan penyiksaan, sebelum dikirim mereka ke Comarca.[18]
Pemindahan seseorang tahanan yang terjadi berkali-kali, terutama pada malam hari, merupakan sebuah cara untuk mengintimidasi, membuat bingung serta menanamkan rasa takut kepada para tahanan. Nasib seorang tahanan setelah dibawa ke sana kemari tidak pernah pasti. Bisa saja dibawa ke sebuah tempat lain berarti akhir dari hidupnya.
Banyak pemimpin senior Fretilin dan para komandan Falintil dibawa ke Dili, dan ditahan di Comarca (Balide, Dili), atau di Sang Tai Hoo.[19] Sebagian besar dari mereka kemudian hilang, sekitar Maret-April 1979, termasuk beberapa orang yang dibebaskan dari tahanan lalu ditahan kembali. Beberapa di antara mereka dilaporkan dibawa ke tempat-tempat eksekusi di dekat Dili, seperti di Tacitolu, di arah barat Dili, dan Areia Branca, di arah timur Dili. Tawanan lainnya dilaporkan dipindah ke pusat-pusat penahanan di luar Dili, sebelum mereka dieksekusi di tempat-tempat tak jauh dari situ.[20]
Tokoh senior Fretilin, Sera Key (Juvenal Inácio), Leopoldo Joaquim, Anibal Araújo dan José Alcino João Baptista Soares de Jesus, adalah beberapa diantara para tahanan yang dibebaskan dari Sang Tai Hoo namun kemudian ditangkap lagi dan dibawa ke Baucau, sebelum akhirnya dieksekusi di Lacudala, Lospalos (Lautem) atau Uatu-Lari (Viqueque).[21]
Bukan hanya mereka yang merupakan anggota gerakan perlawanan atau dicurigai sebagai anggota yang ditahan di pusat-pusat penyiksaan ini, anak-anak kecil pun diinterogasi. Maria José Conceição Franco Pereira, yang saat ditahan berusia empat (4) tahun, mengatakan bahwa ia ditangkap bersama ibunya oleh dua orang anggota ABRI. Mereka ditahan antara tahun 1976 dan 1979. Di bawah ini dia menceritakan perlakuan mereka di Sang Tai Hoo:
“Ibu saya ditangkap bersama beberapa perempuan lain dan anak-anak mereka di Becora [Dili] karena kakak laki tertua saya adalah anggota Fretilin dan seluruh keluarga saya telah melarikan diri ke hutan kecuali ibu saya, yang seorang perawat. Ibu dan saya dibawa ke Sang Tai Hoo…Malamnya ibu diinterogasi. Dia ditampar, dicambuk, diludahi, disetrum, disundut dengan rokok dan diancam dengan pistol. Saya hanya bisa melihat… Hari berikutnya, ABRI menangkap seorang laki-laki yang sangat tua dan anaknya yang mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dari saya saat itu. ABRI mulai menginterogasi mereka, tetapi laki-laki tua itu hanya diam. Kemudian anaknya menjawab karena dia mengetahui Fretilin yang menggunakan senjata di Marabia [Lahane, Dili]……Setelah itu ABRI bilang bahwa anak-anak tidak bohong dan mereka mulai menyiksa saya. Setiap kali mereka menyiksa saya ibu saya berteriak dan meminta mereka untuk menyiksa dia saja…Suatu saat seorang tentara mengangkat saya dengan memegang telinga saya, dan menggantungkan saya diluar jendela [tingkat pertama] di atas jalan di bawah”.[22]
Para tahanan juga disekap dalam kondisi yang tidak manusiawi. Banyak yang melaporkan, mereka dilucuti pakaian mereka dan ditahan dalam keadaan telanjang selama berminggu-minggu. Tahanan lain melaporkan, bahwa mereka tidak diberi makan dan minum. Berikut adalah kisah lengkap seorang tahanan perempuan yang ditahan di Sang Tai Hoo.
Kisah Penyiksaan terhadap FN[23]
FN adalah seorang anggota kelompok pelajar Fretilin Unetim (União de Nasional Estudantes de Timor), yang berkegiatan di Baucau dan Aileu dan kemudian menjadi anggota kelompok perempuan Fretilin OPMT (Organização Popular de Mulheres Timor) di Dili. Pada bulan Januari 1976, ketika dia berusia sekitar 16 tahun, temannya Filomena Aniceto, datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa militer memanggil mereka berdua ke Sang Tai Hoo untuk interogasi. FN mengatakan kepada Komisi:
Filomena dan saya duduk bersama, mendengarkan pertanyaan yang diajukan penerjemah, T229, seorang perempuan Timor Timur. Tentara menanya kami berdua, “Apakah anda mahasiswa Unetim? Sekarang ceritakanlah kegiatan atau misi Unetim selama ini, karena kami mendengar kalian berada di Aileu [Aisirimou] [disitu ada basis Fretilin pada masa konflik internal].
Di sana kalian hidup sebagai binatang – benar atau tidak?” Kami berdua menjawab bahwa itu tidak benar. Tetapi mereka tetap menginterogasi kami dan memutar balik kata-kata kami…hingga malam.
Sesudah [interogasi] mereka memaksa teman saya Filomena Aniceto tetap tinggal di Sang Tai Hoo, namun saya disuruh pulang ke rumah. Di kemudian hari saya dipanggil kembali untuk diinterogasi…Mereka menyampaikan kepada saya, bahwa teman-teman saya [para mahasiswa Unetim di Aileu], yang diinterogasi sebelum saya, telah menyatakan bahwa kami melakukan hal yang sama di Aileu dan kehidupan kami seperti binatang. Mereka mendekati saya dan mulai meraba-raba dari kepala sampai kaki. Badan saya terasa dingin seperti mayat, tetapi dalam hati saya selalu pinta Bunda Maria agar melindungi saya dari segala apa yang mereka lakukan.
Waktu itu saya teriak dan menangis, tetapi mereka marah-marah dan mereka bilang saya anjing betina. Mereka menarik rambutku dan mengatakan, “Sekarang coba engkau membujuk para lider Unetim dan Fretilin supaya mereka datang untuk menyelamatkan kamu.” Mereka memeriksa saya, memutar balik kata-kata saya, hingga petang hari.
Pada hari kelima interogasi, militer datang ke rumah saya pada suatu hari Senin dengan truk yang besar. Semua orang tahu truk militer itu diparkir di depan rumah saya. Saya tidak merasa kaget…tetapi orang tua saya merasa marah karena berulang kali orang datang membawa saya untuk diinterogasi. Jadi pada kali kelima, ibu saya juga mendampingi saya…Mereka membawa saya ke Hotel Tropical…Di sana mereka melarang mama saya untuk ikut masuk…Pada saat saya naik ke tangga untuk lantai atas, pasukan mengeroyok mendorong saya dengan senjata di belakang saya. Mereka berteriak supaya saya cepat-cepat ke sana. Pada waktu itu saya melihat ada banyak tahanan yang berada di gedung tersebut. Interogasi saya dijalankan oleh seorang tentara Indonesia bernama T230 dan seorang penerjemah Indonesia bernama T231. Ia bertanya kepada saya, “Kapan pasukan dari luar negeri datang ke Timor-Timur untuk melawan kami pasukan Indonesia?” Dengan kata-kata seperti itu dan tuduhan-tuduhan, mereka mencoba mulai berdalih dengan orang yang diinterogasi. Mereka menuduh bahwa saya dipaksa orang menjadi anggota Unetim dan Fretilin. Lalu mereka mencuci bendera merah putih dan menyuruh saya minum air cucian itu. Kemudian mereka dengan kain hitam menutupi muka saya, dan memasang helm di kepala saya, lalu memukul saya dengan kayu pendek yang biasanya dipakai oleh polisi [castete]. Mereka memukuli saya sampai pingsan…Mereka lepaskan kembali helm dan kain hitam tersebut, kemudian mereka memukul saya dengan ujung castete. Itu kena di kepala saya sampai memar dan berdarah.
Setelah interogasi mereka selesai, FN dan Filomena disuruh bekerja di rumah komandan setiap hari, untuk mengurus bunga-bunganya. Menurut penuturan FN, tiap pagi mereka dijemput dengan truk militer, sampai mereka dilupakan begitu saja. FN mengutarakan dampak dari hubungannya dengan militer terhadap hidupnya:
Lalu di antara masyarakat muncul isu-isu terhadap kami bertiga. Kami bertiga sering dicurigai oleh teman-teman lain, bahwa kami sudah melakukan hubungan seksual dengan bapak-bapak ABRI, sehingga mereka melontarkan kata-kata kepada kami bertiga bahwa kehidupan kami sudah busuk seperti kentang yang busuk [fehuk ropa dodok]. Isu tersebut muncul karena kami bertiga selalu dipindah-pindah ke tempat yang berbeda-beda untuk diinterogasi. Semuanya isu itu gara-gara kami bertiga pernah disuruh ke tempat RT Pang [rumah tangga Panglima Brigjen Dading Kalbuadi] di Farol untuk menanam bunga di pot-pot yang ada. Setiap hari kami bertiga dijemput oleh sebuah mobil militer ke tempat rumah tangga Pang untuk merawat bunga-bunga tersebut.[24]
Siapakah para pejabat militer di balik tembok-tembok penyiksaan ini? Tentu saja pertanggungjawaban adalah tanggungjawab komando, namun mereka yang langsung berurusan dengan para tahanan juga patut diketahui.  CAVR berhasil mendapatkan nama-nama dari banyak orang Indonesia yang bekerja di Sang Tai Hoo dan markas Kotis.[25] Sang Tai Hoo dipimpin oleh seorang Mayor Bambang, dan pusat interogasi Kotis oleh seorang mayor Syamsun. Komandan atas seluruh Kotis dikenal sebagai Mayor Sunarto. Para interogator lain di dua tempat itu, antara lain Mayor Sinaga, Mayor Ganap, Mayor Mukhdi, Kapten Ali Musa, Mayor Sitorus, Mayor Yani, Mayor Freddy dan beberapa lainnya lagi, seperti Gunardi dan Aziz Hasyim yang pangkatnya tidak diketahui. Banyak dari para perwira ini dipercaya masih hidup dan bisa menceritakan apa yang telah terjadi dengan para tawanan yang hilang selama dalam penahanan mereka itu.
***
Sang Tai Hoo, adalah sebuah toko yang diambil alih militer untuk menjadi tempat penyiksaan. Sama seperti Tuol Sleng di Kamboja yang sebelumnya merupakan “sekolah Tuol Svay Prey Secondary School” yang kemusian pada masa rezim Khmer Merah berkuasa areal Sekolah yang terdiri atas empat gedung bertingkat 3 gedung dijadikan sebagai Penjara dan Tempat Intrograsi para Tahanan. Bedanya, Tuol Sleng sekarang telah dijadikan Museum Genosida Tuol Sleng untuk mengenang “17.000 orang” (perkiraan lain menunjukkan angka setinggi 20.000, meskipun jumlah sebenarnya tidak diketahui) yang ditahan dan dibunuh di sini selama tahun 1975-1979.
Semoga negara baru di abad-21 Timor-Leste tidak melupakan sejarah mereka yang pedih dan semoga negara Republik Indonesia juga tidak terus mengingkari sejarah masa lalunya yang kelam, secara terbuka mengakui masa lalu dan bersedia menjalani semua proses yang sewajarnya untuk pengungkapan kebenaran, serta bertanggungjawab dalam merehabilitasi dan memulihkan masa lalu. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak sekali-kali melupakan sejarah” kata proklamator Negara Indonesia, Bung Karno. [S]
Catatan Akhir
[1] Lihat sebagai contoh Pernyataan HRVD 3752; 4881; 0175 ; Wawancara CAVR dengan Maria Olandina Isabel Cairo Alves, Dili, 6 Mei 2004. Untuk 1975/1976 lihat Pernyataan HRVD: 3742; 5666; 5107; 5050.
[2] SOTA (Sociedade Oriental do Transportes e Armazens, sebuah bangunan perusahaan perdagangan Portugis. Saat laporan CAVR diselesaikan sekitar tahun 2005, gedung ini adalah Dili Trade Center).
[3] Lihat Pernyataan HRVD: 5092; 4881; 5730; 7011; 5725; 3742; 3607; 5683 ; 0175; 0113;
3780; 3752; 5050; 0041. Pernyataan-pernyataan yang diberikan kepada CAVR menunjukkan, bahwa Tropical digunakan terutama pada tahun 1975-76. Kemudian pada tahun 1999 diduduki lagi oleh milisi Aitarak dan digunakan untuk menahan para pendukung kemerdekaan.
[4] Amnesty International, Statement of Amnesty International’s Concern in Indonesia and East Timor ,
ASA: 21/05/80, London, 29 April 1980, hal. 10
[5] Wawancara CAVR dengan António Caleres Junior, Dili, 2 Oktober 2004.
[6] Wawancara CAVR dengan Maria Fatima Maia, Dili, 16 Februari 2003.
[7] Ibid
[8] Wawancara CAVR dengan Francisco Calçonha, 31 Agustus 2004, Dili.
[9] Pernyataan HRVD 5666.
[10] Pernyataan HRVD 5730.
[11] Wawancara CAVR dengan Jacinto Alves, Dili, 5 Agustus 2004.
[12] Wawancara CAVR dengan Maria Fatima Maia, Dili, 16 Februari 2003
[13] Laporan Akhir CAVR, Bab 7.4: Penahanan Sewenang-wenang, Penyiksaan dan Penganiayaan, hal. 106.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] CAVR, wawancara dengan Chiquito da Costa Guterres, Dili, 14 Juni 2004.
[17] Lihat, misalnya, Pernyataan HRVD 4881; 5730; 0175; 0113; 3752; 3780; 5050; 0041.
[18] Lihat, misalnya, Pernyataan HRVD 0175; 0113; 3752; 4881; 3780; 5050. Militer Indonesia memanfaatkan para tahanan untuk merenovasi gedung Comarca pada awal tahun 1976.
[19] Lihat HRVD, pernyataan 08041, 05671, 03759, 08037, 03742, 08115, 05775, 03529.
[20] Wawancara dengan Justino Mota, Lisbon 4 Juli 1984 (Dokumen disubmisi kepada CAVR oleh Anthony
Goldstone).
[21] Laporan Akhir CAVR, Bab 7.2. Pembunuhan di Luar Hukum dan Penghilangan Paksa, hal. 84
[22] Maria Jose Franco Pereira, kesaksian dalam Audensi Publik CAVR mengenai Penahanan Politik, Dili, 17-18 Februari 2003.
[23] Untuk keseluruhan bagian ini, lihat laporan Akhir CAVR, Bab 7.4: Penahanan Sewenang-wenang, Penyiksaan dan Penganiayaan  hal. 112-113.
[24] Wawancara CAVR dengan Maria de Fatima Acacio Guterres Leong, Dili, 21 Februari 2003.
[25] Laporan Akhir CAVR, Bab 7.2. Pembunuhan di Luar Hukum dan Penghilangan Paksa, hal. 84.

Monday, November 21, 2016

Metode Analisis


Secara general ada 2 (dua) macam metode analisis yang umumnya digunakan dalam penelitian yaitu (1) Analisis data secara Kualitatif, (2). Analisis data Secara Kuantitatif. Metode analisis yang digunakan pada penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif tidak menggunakan alat statistik, namun dilakukan dengan menginterpretasi tabel-tabel, grafik-grafik, atau angka-angka yang ada kemudian melakukan uraian dan penafsiran. Sedangkan Analisis data secara Kuantitatif adalah metode analisis yang digunakan pada penelitian dengan pendekatan analisis kuantitatif dan menggunakan alat statistik.

Jika pendekatan analisis menggunakan alat statistik berarti analisis data dilakukan menurut dasar-dasar statistik. Ada dua macam alat statistik yang digunakan yaitu: Statistik Deskriptif dan Statistik Inferensial.

Pengelompokan Analisis Berdasarkan Variabel
Jika dilihat dari jumlah variabel yang dianalisis ada 3 jenis analisis data yaitu:
Analisis Univariat, analisis yang menggunakan 1 variabel.
Analisis Bivariat, analisis yang menggunakan 2 variabel.
Analisis Multivariat, analisis yang menggunakan 3 atau lebih variabel

Jika dengan menganalisis data kualitatif diperoleh gambaran yang teratur tentang suatu peristiwa atau kejadian maka statistik ini disebut “Deskriftif” misalnya pengukuran nilai sentral (Rata-rata, Median, Modus), deviasi, perhitungan angka indeks, ukuran korelasi, dan trend.

Macam-macam Metode Analisis
Metode lebih lanjut dimana dalam analisis tersebut memberikan cara bagaimana menarik kesimpulan mengenai ciri-ciri populasi tertentu berdasarkan hasil dari analisis serangkaian sampel yang diambil dari populasi tersebut dinamakan “Metode Statistik Inferensial” Pemilihan Metode Analisis data menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif. Dalam pendekatan kuantitatif persyaratan pertama yang harus terpenuhi adalah alat uji statistik yang akan digunakan harus sesuai.

Pertimbangan utama dalam memilih alat uji statisticditentukan oleh pertanyaan untuk apa penelitian tersebut dilakukan dan ditentukan oleh tingkat/skala, distribusi dan penyebaran data. Pertimbangan kedua dalam memilih alat uji statistik ini adalah luasnya pengetahuan statistik yang dimiliki serta ketersediaan sumber-sumber dalam hubungannya dengan perhitungan dan penafsiran data. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif berbeda dengan pendekatan kuantitatif, dalam pendekatan kualitatif perhatian dipusatkan kepada prinsip umum yang mendasari perwujudan dan satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia atau pola yang ada. Analisis yang dilakukan adalah gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh pola yang berlaku, dan pola tersebut dianalisis dengan teori yang objektif.

Penelitian kualitatif mampu mengungkapkan gejala yang ada di masyarakat secara sistematis. Oleh karena itu urutan atau sistimatika yang ada dalam penelitian memberikan urutan serta pola berfikir secara sistematis dan komplek. Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini mampu mengungkap gejala yang ada di masyarakat secara sistematis serta mampu mengungkapkan kejadian yang sebenarnya sehingga akan sulit ditolak kebenarannya.

Dalam memilih metode analisis perlu dipertimbangkan:
• Kecocokan/kesesuaian metode.
• Kehandalan/ketangguhan.
• Kepekaan.
• Kecepatan/kemudahan.
• Kepraktisan / fleksibel.
• Keamanan.

Cara menentukan metode analisis yang akan digunakan:

• Menetapkan tujuan.
• Jenis metode.
• Kemungkinan penggunaan metode.
• Macam atribut metode yang digunakan.
• Pemilihan metode alternative.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan dalam memilih metode analisis adalah:
• Apakah analisis dilakukan untuk 1 sampel, jarang atau sering dengan contoh yang sama.
• Pereaksi apa saja yang harus tersedia.
• Berapa lama waktu yang diperlukan.
• Apa jenis matriks sampel yang dianalisis.
• Berapa tingkat ketelitian yang diharapkan.
• Apa ada zat pengganggu.
• Apa ada badan khusus atau persyaratan peraturan, batas tindakan, atau batas pelaporan.
• Apakah diperlukan prosedur yang mampu menseleksi,mendeteksi, dan identifikasi untuk campuran.
• Berapa biaya yang harus dibayar pelanggan.

Jika menggunakan metode yang dikembangkan sendiri harus:
• Merupakan kegiatan yang direncanakan
• Ditugaskan kepada personil yang memenuhi persyaratan
• Dilengkapi dengan sumber daya laboratorium yang memadai.

Apabila menggunakan metode non standar, maka harus :
• Mendapat persetujuan pemilik sampel
• Memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pemilik sampel
• Sesuai dengan tujuan analisis.

sumber : https://razak-berbagi-sesama.blogspot.com

Tuesday, November 15, 2016

METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF

A. Pendahuluan

Meotodologi Penelitian kuantitatif dengan teknik statistiknya diakui mendominasi analisis penelitian sejak abad ke-18 sampai abad ini. Dengan semakin canggihnya teknologi komputer, berkembang teknik-teknik analisis statistik yang mendukung pengembangan penelitian kuantitatif. Metodologi penelitian kuantitatif statistik menjadi lebih bergengsi daripada metodologi penelitian kuantitatif. Lebih-lebih bila diperhatikan pula pada sejumlah kenyataan bahwa ada sementara calon ilmuwan yang menggunakan metodologi kualitatif dengan alasan dan bukti ketidakmampuannya di dalam menggunakan teknik-teknik analisis statistik.
Pada segi lain, karena bergengsinya metodologi penelitian kuantitatif dengan teknik-teknik statistiknya, banyak ilmuwan ataupun pakar ilmu yang tenggelam ke dalam teknik-teknik analisis yang canggih, sehingga melupakan kelemahan di damping keunggulan filsafat dan teori metodologi penelitian yang melandasinya.
Secara garis besar, dapat dijelaskan bahwa metodologi penelitian kuantitatif mulai dengan menetapkan obyek studi yang spesifik, dieliminasikan dari totalitas atau konteks besarnya sehingga menjadi ekplisist atau jelas obyek studinya. Sesudah itu, baru disusun kerangka teori sesuai dengan obyek studi spesifiknya. Dari situ, dapat ditelorkan hipotesis atau problematik penelitian, instrumen pengumpulan data, teknik sampling serta teknik analisisnya. Selain itu juga dapat ditentukan rancangan metodologik lainnya seperti penetapan batas signifikansi, teknik-teknik penyesuaian jika ada kekurangan atau kekeliruan di dalam hal data, adminstrasi, analisis, dan semacamnya. Dengan kata lain, semua dirancang dan direncanakan secara matang sebelum peneliti terjun ke lapangan untuk melakukan kegiatan penelitiannya.
B. Melakukan Penelitian Kuantitatif
1. Persyaratan Penelitian
a. Sistematis
Dilaksanakan menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai dengan yang kompleks sehingga tercapai tujuan secara efektif dan efisien.
b. Berencana
Dilaksanakan dengan adanya unsur kesengajaan dan sebelum dilakukan penelitian, sudah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaanya.
c. Mengikuti Konsep Ilmiah
Mulai dari awal sampai dengan akhir kegiatan, penelitian dilakukan dengan mengikuti cara-cara atau langkah-langkah yang sudah ditentukan, yaitu prinsip yang digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan (taraf berpikir ilmiah oleh John Dewey di dalam reflective thinking) yang antara lain meliputi:
1) The felt need
Penelitian dilakukan karena diawali oleh adanya kebutuhan atau tantangan untuk menyelesaikan suatu masalah.
2) The Problem
Merumuskan masalah agar suatu masalah penelitian menjadi jelas batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masakah tersebut.
3) The hypothesis
Menetapkan hipotesis sebagai titik tolak mengadakan kegiatan pemecahan masalah.
4) Collection of data as evidence
Mengumpulkan data untuk menguji hipotesis.
5) Concluding belief
Menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data dan dikembalikan kepada hipotesis yang sudah dirumuskan.
6) General value of the conclusion
Menentukan kemungkinan untuk mengadakan generalisasi dari kesimpulan tersebut dan implikasinya di masa yang akan datang (Sutrisno Hadi di dalam Suharsimi Arikunto, 1998: 15).
2. Prosedur Penelitian kuantitatif
Langkah-langkah penelitian kuantitatif menurut Suharsimi Arikunto (1998: 17) adalah sebagai berikut:
a. Memilih Masalah
b. Melakukan Studi Pendahuluan
c. Merumuskan Masalah Rancangan Penelitian
d. Merumuskan Anggapan Dasar dan Hipotesis
e. Memilih Pendekatan
f. Menentukan Variabel dan Sumber Data
g. Menentukan dan Menyusun Instrumen
h. Mengumpulkan Data
i. Menganalisis Data Pelaksanaan
j. Menarik Kesimpulan
k. Menulis Laporan Pembuatan Laporan
Langkah-langkah penelitian kuantitatif tersebut secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Memilih Masalah
Masalah timbul karena adanya tantangan, kesangsian atau kebingungan terhadap suatu hal atau fenomena, kemenduaan arti (ambiguity), halangan dan rintangan, celah (gap) baik antarkegiatan atau antarfenomena baik yang telah ada ataupun yang akan ada. Masalah yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Mempunyai nilai penelitian.
Masalah mempunyai nilai penelitian apabila:
a) mempunyai sifat keaslian.
b) menyatakan suatu hubungan.
c) merupakan hal yang penting.
d) dapat diuji.
e) dinyatakan di dalam bentuk pertanyaan.
2) Mempunyai fisibilitas (dapat dilaksanakan).
Persyaratan ini akan terpenuhi apabila:
a) Data serta metode untuk memecahkan masalah tersedia.
b) Cukup waktu, tenaga dan biaya untuk memecahkan masalah tersebut.
c) Ada dukungan dari pihak-pihak terkait.
d) Masalah tidak bertentangan dengan hukum, moral dan etika.
3) Sesuai dengan kualifikasi si peneliti.
Masalah yang baik adalah yang menarik bagi peneliti dan sesuai dengan kualifikasi dari si peneliti itu sendiri.
4) Hasil penelitian bermanfaat.
Ciri ini sekaligus merupakan syarat terpenting bagi suatu kegiatan penelitian karena penelitian yang baik pada dasarnya dilakukan dalam rangka untuk menyumbangkan hasil penelitian tersebut kemajuan ilmu pengetahuan, meningkatkan efektifitas kerja, atau mengembangkan sesuatu yang sudah ada.
Masalah-masalah penelitian dapat diperoleh dari sumber masalah sebagai berikut:
1) Pengalaman pribadi peneliti di dalam kehidupan sehari-hari.
2) Pengamatan pribadi terhadap lingkungan sekitar.
3) Bacaan-bacaan, baik yang ilmiah maupun yang non ilmiah.
b. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dimaksudkan untuk menjajagi kemungkinan bisa tidaknya kegiatan penelitian diteruskan. Selain itu juga dimaksudkan untuk mencari informasi yang diperlukan oleh peneliti agar masalahnya menjadi lebih jelas kedudukannya.
1) Manfaat Studi Pendahuluan
Manfaat dari studi pendahuluan antara lain terkait denganinformasi yang di dapat oleh peneliti mengenai:
a) apa yang akan diteliti.
b) Di mana dan kepada siapa informasi dapat diperoleh.
c) Bagaimana cara memperoleh data/informasi.
d) Teknik apa yang akan dugunakan untuk menganalisis data.
e) Bagaimana harus mengambil kesimpulan serta memanfaatkan hasil penelitian.
2) Cara Mengadakan Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dapat dilakukan pada 3 obyek yang biasa di kenal dengan istila 3 p (paper, person, place).
c. Merumuskan Masalah Penelitian
Agar penelitian dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka peneliti perlu untuk merumuskan masalahnya sehingga menjadi jelas dari mana harus memulai, ke mana harus diarahkan dan dengan apa bisa dijalankan. Umumnya masalah penelitian dirumuskan dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1) dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
2) Rumusan jelas dan padat.
3) mencerminkan ciri penelitian yang dilakukan.
Selain ketentuan di atas, masih terdapat beberapa ketentuan yang diantaranya adalah rumusan masalah harus merupakan dasar bagi perumusan judul, perumusan tujuan, dan pembuatan hipotesis.
Sebagai contohnya:
Judul : Studi Korelasi antara Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun Tahun Ajaran 2008-2009
Masalah : Adakah korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun tahun ajaran 2008-2009?
Tujuan : Untuk mengetahui korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris Siswa SMUN 3 Madiun tahun ajaran 2008-2009.
Untuk mengetahui apakah judul tersebut sudah memenuhi persyaratan sebagai judul penelitian yang baik, maka bisa dilihat dari unsur-unsur yang terdapat di dalam judul penelitian tersebut yang diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Sifat atau jenis penelitian : Penelitian Korelasi
2) Obyek yang akan diteliti : Motivasi Belajar dan
Prestasi Belajar Bahasa Inggris
3) Subyek Penelitian : Siswa SMU 3 Madiun
4) Lokasi Penelitian : Sekolah SMU 3 Madiun
5) Waktu Penelitian : Tahun Ajaran 2004-2005
d. Merumuskan Aggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian
1) Anggapan Dasar
Anggapan dasar atau postulat menurut Winarno Surakhmad di dalam Suharsimi Arikunto (1998: 60) adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Setiap peneliti dapat merumuskan postulat sendiri-sendiri yang bersifat sangat subyektif. Seorang peneliti mungkin masih meragukan suatu anggapan dasar yang oleh peneliti lain sudah diterima sebagai suatu kebenaran. Dari contoh Judul penelitian di atas anggapan dasar penelitian antara lain dapat dirumuskan sebagai berikut:
a) Siswa SMUN 3 Madiun mendapatkan mata pelajaran Bahasa Inggris.
b) Motivasi belajar siswa SMUN 3 Madiun bervariasi.
c) Prestasi belajar siswa SMUN 3 Madiun bervariasi.
1) Hipotesis Penelitian
q Pengertian = jawaban sementara yang masih perlu dibuktikan kebenarannya di lapangan. Berasal dari kata hipo = lemah dan thesis = kebenaran. Hipotesis diturunkan dari kajian teoretik yang dijembatani penyusunannya oleh kerangka berpikir
q Macam = hipotesis nol (Ho) = menyatakan ketiadaan, dan hipotesis alternatif (Ha/H1) = menyatakan ke-adaan.
Dari contoh judul penelitian di atas, hipotesis penelitiannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Hipotesis Nol (Ho) :
Tidak ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005.
Hipotesis Alternatif (Ha/H1):
Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005
Contoh Ho = “Tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti les dengan siswa yang tidak mengikuti les”
Contoh H1 = “Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mengikuti les dengan siswa yang tidak mengikuti les”
q Hipotesis diperlukan pada penelitian yang bersifat inferensial pertautan antara dua variabel atau lebih.
q Susunan hipotesis hendaknya = menggunakan kalimat deklaratif, pertautan antara 2 variabel, jelas dan padat, serta memungkinkan untuk diuji.
q Penelitian yang mengkaji pertautan dua variabel,membutuhkan satu hipotesis (“Ada ….. antara variabel A dengan variabel B”). Penelitian yang mengkaji pertautan tiga variabel, membutuhkan tiga hipotesis = (1) “Ada …..antara variabel A-1 dengan variabel B”, (2) “Ada …..antara variabel A-2 dengan variabel B”, (3) “Ada interaksiantara A-1 dan A-2 dalam memberikan pengaruh kepada B”
q Penelitian deskriptif-kualitatif-eksploratif biasanya tidak memerlukan hipotesis karena jenis penelitian ini cenderung bersifat menggali satu variabel saja. Peneliticukup melaporkan secara deskriptif hasil galian itu baik dalam angka-angka maupun uraian kalimat. Contoh = “studi tentang kemampuan menulis karangan argumentasi siswa SD Bringin kabupaten Ngawi tahun pelajaran 2002-2003”. Ingat dalam mata kuliah statistik disebutkan “statistik deskriptif hanya bertugas mengumpulkan-menata-menginterpretasi data, tidak sampai pada penyimpulan”. Penyimpulan hanya terjadi pada statistik inferensial.
e. Memilih Pendekatan (Metode dan Rancangan Penelitian)
Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk penelitian, antara lain:
q Metode survei = metode untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual baik tentang institusi sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya.
q Metode komparasional = metode penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab-akibat dengan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu.
q Metode eksperimen = metode observasi di bawah kondisi buatan (artificial condition) di mana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti.
q Metode sejarah = metode penelitian yang menyelidiki secara kritis terhadap keadaan-keadaan, perkembangan, serta pemahaman di masa lampau dan menimbang secara cukup teliti dan hati-hati tentang bukti validitas dari mana sumber sejarah serta interpretasi dari sumber-sumber keterangan tersebut.
q Metode deskriptif = metode pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Metode ini mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat, serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungankegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.
q Metode studi kasus = metode penelitian tentang status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Subjek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun masyarakat.
q Ada satu metode yang biasa dipakai oleh mahasiswa jurusan sastra dalam melakukan penelitian literer / studi sastra, yaitu “Metode analisis isi / content analysis”. Metode ini dapat dipadukan dengan metode kualitatif, desktiptif, dan teori kritik / apresiasi sastra.
q Dan lain-lain (silahkan baca = Moh Nasir “Metode Penelitian”, 1999:55-98)
q Rancangan penelitian dapat didesain sesuai dengan pola hubungan antar variabel. Untuk itu, rancangan penelitian dapat berupa = penelitian eksperimental, deskriptif, korelasional, dan lain sebagainya. Pada intinya rancangan penelitian dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu = studi tentang hubungan dan studi tentang perbedaan. Pola dari dua kelompok itu digambar dalam diagram sebagai berikut:

Hubungan:
X-1
(Interaksi antara X-1 dan X-2 terhadap Y)
X-2
Y
(diagram di atas merupakan desain koresional è pertautan 3 variabel = 2 variabel bebas yaitu X-1 dan X-2, dan 1 variabel terikat yaitu Y è membutuhkan tiga hipotesis)
X
Y
(Catatan: diagram di atas merupakan desain koresional èpertautan 2 variabel = 1 variabel bebas yaitu X, dan 1 variabel terikat yaitu Y è membutuhkan satu hipotesis)
Perbedaan:
FAKTOR B
B1
B2
FAKTOR A
A1
Y
Y
A2
Y
Y
(diagram di atas merupakan desain faktorial 2 X 2 è 2 faktorè pertautan 3 variabel = 2 variabel bebas, yaitu A dan B, serta 1 variabel terikat yaitu Y è membutuhkan 3 hipotesis)
FAKTOR A
A-1
A-2
A-3
A-4
Y
Y
Y
Y
(diagram di atas merupakan desain 1 faktor è pertautan 2 variabel = 1 variabel bebas yaitu A yang terdiri dari 4 jenis perlakuan, dan 1 variabel terikat yaitu Y è membutuhkan 1 hopotesis)
f. Menentukan Variabel dan Sumber Data
1) Variabel Penelitian
q Variabel adalah fenomena yang merupakan objek penelitian, yaitu konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai, yaitu sumber dari mana data diambil. Contoh = jenis kelamin (punya nilai laki-laki dan perempuan), berat badan (punya nilai ringan, sedang, berat)
q Macam Variabel:
Ø Variabel kontinu, yaitu variabel yang dapat ditentukan nilainya dalam jarak jangkau tertentu dengan desimal yang tidak terbatas. Contoh = berat (75,09 kg., 76,14 kg., 80,00 kg.)
Ø Variabel descrete atau variabel kategori yaitu variabel yang nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan atau desimal di belakang koma, variabel ini bersifat dikotomis (dua kategori). Contoh = Jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), status perkawinan (kawin dan belum kawin). Variabel yang nilainya lebih dari dua disebut variabel politom. Contoh = tingkat pendidikan (SD, SLTP, SLTA)
Ø Variabel independent (bebas) = variabel anteseden, yaitu variabel yang secara bebas dapat dimanipulasi oleh peneliti (dalam penelitian eksperimen), secara bebas diambil oleh peneliti (sebagai in put) dan dapat mempengaruhi variabel terikat (dalam penelitian eksperimen atau ex post facto). Variabel dependent (terikat) = variabel konsekuen, yaitu variabel yang kondisinya merupakan akibat (out put) dari variabel bebas, bergantung pada perilaku variabel bebas.
Ø Variabel moderator, yaitu variabel yang berpengaruh terhadap variabel dependent tetapi tidak utama.
Ø Variabel random, yaitu variabel lain kecuali moderator yang dapat berpengaruh terhadap variabel dependent.
Ø Variabel aktif, yaitu variabel yang dimanipulasikan oleh peneliti (yang aktif mempengaruhi variabel terikat).
Ø Variabel atribut, yaitu variabel yang tidak dapat dimanipulasikan oleh peneliti karena karakternya melekat pada objek / manusia. Contoh = intelegensi, jenis kelamin, status sosial ekonomi, pendidikan, sikap, dll.
a) Pengukuran Variabel Penelitian
q Pengukuran merupakan kegiatan penetapan atau pemberian angka terhadap objek atau fenomena menurut aturan tertentu.
q Macam-macam ukuran:
Ø Ukuran nominal = adalah ukuran di mana angka hanya sebagai label saja, tidak menunjukkan tingkatan apa-apa. Contoh = 1 (pria); 2 (wanita); 0 (banci)
Ø Ukuran ordinal = adalah ukuran di mana angka menyatakan tingkatan, tetapi tidak memberikan nilai absolut. Ukuran ini hanya digunakan untuk mengurutkan / merangking objek dari rendah ke tinggi. Skala rangking bukanlah skala yang mempunyai interval yang sama. Contoh = 1 (25), 2 (60), 3 (65), 4 (95)
Ø Ukuran interval = adalah ukuran di mana angka menunjukkan suatu tingkatan, tidak memberi nilai absolut. Ukuran ini menyatakan bahwa interval antara angka-angka tersebut sama besarnya / jaraknya. Contoh nilai tes = 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10
Ø Ukuran rasio = adalah ukuran di mana angka menunjukkan suatu tingkatan dan memberi nilai absolut. Ukuran ini mempunyai titik nol. Angka menunjukkan nilai yang sebenarnya dari objek yang diukur. Contoh = jika ada 4 bayi: A, B, C, D mempunyai berat badan 1 kg, 3 kg, 4 kg, 5 kg, maka ukuran rasionya dapat digambarkan bahwa = 0 = 0, 1 = A, 2 = 0, 3 = B, 4 = C, 5 = D
§ Teknik analisis statistik yang digunakan bagi sebuah penelitian kuantitatif, sangat ditentukan oleh ukuran dari setiap variable penelitian yang digunakan.
q Devinisi operasional variabel adalah devinisi berdasarkan sifat yang diamati sesuai indikator-indikator yang ditentukan oleh peneliti. Contoh = Status sosial ekonomi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat atau kedudukan orang tua siswa dalam bidang ekonomi. Status sosial ekonomi tersebut diungkap dengan indikator-indikator yaitu: jenis/macam pekerjaan, jenjang pendidikan, masa kerja, ruang golongan gaji, jabatan struktural, instansi kerja, besar gaji dan tunjangan tiap bulan, fasilitas hidup.
q Penyusunan devinisi operasional variabel yang berdasarkan pada sifat dan indikator ini dapat disusun dengan logika berpikir kritis, pengetahuan ilmiah dan pengalaman empiris (Nana Sujana, 1990:14).
q Devinisi operasional variabel berfungsi untuk mempertajam pemahaman konsep dan ruang lingkup variabel-variabel yang diambil peneliti sendiri, agar menjadi pedoman operasional bagi peneliti pada saat melaksanakan penelitian.
2) Sumber Data
a) Pengertian Data
Data adalah keterangan mengenai sesuatu yang berbentuk angka-angka dan mungkin bukan angka-angka (kuantitatif maupun kualitatif)
b) Populasi dan Sampel
q Populasi = semua anggota dari kelompok manusia, kejadian, barang, data yang merupakan objek penelitian
q Sampel = sebagian kecil dari populasi yang harus mewakili / representatif
q Jumlah sampel dapat ditentukan dengan berbagai kriteria. Donald Ary menyebut 10 – 20 persen atau lebih (lihat Terj. Arief Furchon, 1982:198). Jika jumlah objeknya kecil (kurang dari 30 orang) sebaiknya menggunakan sampel total (sensus), artinya semuanya dijadikan objek penelitian.
q Macam-macam teknik sampling (teknik penentuan sample):
Ø Random sampling = teknik pengambilan sampel di mana semua anggota populasi mempunyai hak / kesempatan yang sama untuk menjadi sampel. Teknik ini dapat dilakukan dengan cara (1) undian = dengan gulungan kertas, (2) ordinal = setelah ditentukan jumlah sampel 200 orang dari 1000 orang (jadi seper lima-nya), maka kita buat 5 gulungan kertas diberi angka 1, 2, 3, 4, 5. Kita ambil satu gulungan, jika jatuh nomor 3, maka angka pertama dimulai dengan nomor 3, lalu = 8, 13, 18, 23, dan seterusnya. (3) dengan tabel bilangan random, yaitu dengan menjatuhkan ujung pensil.
Ø Sampel berstrata (stratified sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas tingkat-tingkat atau strata. Setelah ditentukan tiap-tiap stratanya (yang mewakili populasi), lalu tiap strata diambil secara random. Contoh = tingkat pendidikan, strata umur, strata kelas, dll.
Ø Sampel wilayah (area sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti berpendapat bahwa populasi terbagi atas area-area atau wilayah-wilayah. Setelah ditentukan tiap-tiap wilayahnya (yang mewakili karakter seluruh wilayah), lalu tiap wilayah diambil secara random. Contoh = dari 34 provinsi di Indonesia diambilbeberapa propinsi yang mencerminkan keberhasilan KB di Indonesia.
Ø Sampel proporsi (proportional sampling) = teknik ini mirip sampel berstrata atau area dan tiap tiap bagian diambil secara proporsional dalam persen yang telah ditentukan. Setelah ditentukan tiap-tiap wilayahnya atau stratanya (yang mewakili karakter seluruh wilayah atau strata), lalu tiap bagian diambil secara random berdasarkan jumlah proporsi yang ditentukan peneliti. Sehingga sampel ini dapat digabung menjadi = stratifief proporsional random sampling atau area proporsional random sampling.
Ø Sampel bertujuan (purposive sampling) = teknik ini digunakan karena peneliti mempunyai tujuan tertentu atas beberapa pertimbangan peneliti. Pertimbangan itu antara lain misalnya = keterbatasan waktu, tenaga dan dana sehingga tidak dapat mengambil sampel yang besar. Meskipun demikian, peneliti harus mempertimbangkan bahwa = sampel harus mewakili, sampel harus benar-benar diambil dari subjek yang banyak mengandung ciri-ciri yang ada pada populasi (key subject).
Ø Sampel kuota (Quota sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti telah menentukan jumlah tertentu yang akan diambil sebagai sampel. Yang penting adalah memenuhi quota tertentu yang ditetapkan dan representatif.
Sampel kelompok (Cluster sampling) = teknik ini digunakan jika peneliti merasa bahwa populasinya terdiri dari kelompok-kelompok yang setara, misalnya = petani, pegadang, nelayan, ABRI, pegawai, dll. Sampel tetap diambil secara representatif.
g. Menentukan dan Menyusun Instrumen
q Intrumen penelitian dibuat dengan menyesuaikan teknik pengambilan data yang dipilih.
q Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian.
Ø Validitas = menunjuk kepada sejauh mana suatu alat mampu mengukur apa yang seharusnya diukur, dan reliabilitas mengacu kepada sejauh mana suatu alat ukur secara ajeg mengukur apa yang diukurnya (Donald Ary, 1982:281).
Ø Ada beberapa jenis validitas = (1) validitas isi = sejauh mana instrumen mencerminkan isi yang dikehendaki. Validitas ini sering disebut validitas kurikulum karena suatu tes disusun berdasarkan kurikulum. (2) Validitas bangun pengertian = menunjuk kepada apa unsur-unsur yang membentuk pengertian itu dan sejauh mana hasil tes dapat ditafsirkan menurut bangunan pengertian itu. Untuk menyusun bangun pengertian (yang lalu berwujud indikator-indikator) ini peneliti dapat menggunakan logika berpikir, pengetahuan ilmiah, dan pengetahuan empiris (Nana Sujana, 1990:14). (3) Validitas muka = berhubungan dengan penilaian para ahli terhadap suatu alat ukur. Valid kalau telah diperiksa oleh seorang ahli (pembimbing). (4) Validitas empiris = valid jika telah diujicobakan di lapangan. (5) dan lain-lain.
Ø Validitas empiris dapat diukur secara internal dan secara eksternal. Secara internal instrumen penelitian akan diukur tingkat kesulitannya dan tingkat daya bedanya. Secara eksternal, hasil uji cobanya akan dibandingkan dengan nilai standar. Ada banyak rumus statistik yang dapat digunakan untuk melakukan komputasi guna mengetes validitas ini = antara lain rumus korelasi product moment. Daya beda dan tingkat kesulitan dapat dikomputasi dengan metode Flanagan
Reliabilitas diukur dengan teknik = test-retest, split-half, tes paralel. Dan komputasinya dapat dengan rumus statistikkorelasi product moment.
h. Mengumpulkan Data
q Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan untuk menjaring data yang diperlukan sesuai dengan sampel yang telah ditentukan. Macam-macam teknik sebagai berikut:
Ø Interview atau wawancara. Dalam wawancara diperlukan panduan atau pedoman wawancara, yaitu kisi-kisi yang berisi butir-butir pertanyaan agar wawancaranya terarah. Wawancara dapat dilakukan secara terbuka/bebas (mendalam = in-depth interviewing) atau tertutup (dengan jawaban ya-tidak atau dengan tanda checking)
Ø Observasi. Sama dengan wawancara juga diperlukan kisi-kisi observasi sehingga observer dapat mencatat gejala secara terurai atau membubuhkan tanda checking.
Ø Dokumentasi, yaitu teknik mengambil data dengan memeriksa dokumen-dokumen yang telah ada sebelum penelitian berlangsung.
Ø Qoessioner atau angket. Sama dengan interview atau observasi, angket juga dibuat dengan kisi-kisi yang ditentukan oleh indikator-indikator atau diskriptor-diskriptor. Ingatlah bagaimana menyusun indikator (lihat Nana Sujana, 1990:14).
Ø Tes, dan lain-lain
i. Menganalisis Data
Ada dua tahap dalam menganalisis data kuantitatif:
1) Analisis deskriptif yang menganalisis pendeskripsian data dengan menyajikan: distribusi frekuensi. nilai median, mean, modus, standar deviasi, histogram dan poligon;
2) Analisis inferensial yang macamnya terdiri antara lain sebagai berikut:
q Uji beda dua rata-rata = yaitu pembandingan dua rata-rata yang menguji 3 macam hipotesis yaitu (a) ada berbedaan VS tidak ada perbedaan, (b) lebih besar VS lebih kecil, (c) lebih kecil VS lebih besar. Pilihlah jenis hipotesis sesuai dengan desain penelitian yang dilakukan.
Teknik komputasi statistik yang dapat digunakan untuk uji beda dua rata-rata ialah t-test atau z-test. Untuk uji beda lebih dari dua rata-rata menggunakan Anava (analysis of variance) baik satu jalan maupun dua jalan
q Korelasi = yaitu teknik analisis statistik yang menguji ada atau tidak adanya hubungan antara dua variabel atau lebih. Ada yang berpendapat bahwa uji korelasi ini dipakai untuk menguji hubungan dua variabel atau lebih yang peneliti tidak tahu mana yang variabel aktif dan mana yang variabel pasif.
q Regresi = yaitu teknik analisis statistik yang menguji ada atau tidak adanya sumbangan (kontribusi) variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikatnya. Uji regresi ini dapat regresi sederhana (1 prediktor) dan regresi ganda (2 atau lebih prediktor)
q Chi Kuadrat, dan lain sebagainya
Hasil analisis data.
Bagian ini merupakan bagian yang beriisi laporan hasil komputasi. Jadi, daftar data mentah (daftar nilai dalam tabel, misalnya) hendaknya tidak ditulis di sini, tetapi diletakkan dalam lampiran.
Catatan = untuk teknik analisis statistik ini silahkan baca “Metoda Statistika” (Sudjana, 1982, Bandung: Tarsito), dan buku-buku statistik lainnya “seperti tulisannya Sutrisno Hadi” yang dipandu dalam mata kuliah “Statistik”.
j. Menarik Kesimpulan
Kesimpulan adalah hasisl dari suatu proses tertentu, yaitu menarik dalam arti memindahkan sesuatu dari suatu tempat ke tempat lain. Oleh karena itu, kesimpulan penelitian harus selalu mendasarkan diri pada semua data yang diperoleh dari kegiatan penelitian. Dengan kata lain, penarikan kesimpulan harus didasarkan atas data. Oleh karena itu kesimpulan tidak dapat lepas dari problematic dan hipotesis penelitian.
Contoh:
Problematik:
Adakah korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005?
Hipotesis:
Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005.
Kesimpulan:
Ada korelasi antara motivasi belajar dengan prestasi belajar bahasa Inggris siswa SMU 3 Madiun Tahun Ajaran 2004-2005.
k. Menulis Laporan
Penelitian adalah kegiatan ilmiah. Maka dari itu laporan penelitian yang dibuat juga harus mengikuti aturan-aturan penulisan karya ilmiah. Ada beberapa hal yang harus diketahui oleh pembuat laporan penelitian:
q Penulis laporan harus tahu betul kepada siapa laporan itu ditujukan.
q Penulis laporan harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti proses penelitian.
q Penulis laporan harus menyadari bahwa latar belakang pengetahuan, pengalaman dan minat pembaca laporan tidaklah sama.
q Laporan harus jelas dan meyakinkan.
Untuk melengkapi pemahaman mengenai penelitian kuantitatif, berikut ini akan diberikan beberapa ciri yang dapat membedakan penelitian kuantitatif dari penelitian kualitatif.
CIRI PEMBEDA
PENELITIAN KUANTITATIF
PENELITIAN KUALITATIF
1. Datanya
Berupa angka-angka
Berupa kata-kata
2. Sifat Datanya
Bersifat monitetik (Satu tanda satu makna)
Bersifat ideosinkretis (Satu tanda banyak makna)
3. Peranan Hipotesis
Sangat penting
Tidak harus disebutkan, hanya sebagai alternatif, tidak untuk diuji.
4. Peranan Statistik
Statistik mutlak digunakan
Tidak harus menggunakan statistik.
5. Peranan Instrumen
Mengandalkan pada intrumen
Peneliti sendiri sebagai instrumen karena harus berinteraksi dengan obyek.
6. Sifat Proses dan Produk
Lebih berorientasi pada produk
Lebih berorientasi pada proses
7. Sifat interaktif
Tidak interaktif
Interaktif
8. Nilai-nilai
Bebas nilai
Tidak bebas nilai
9. Generalisasi
Dapat digeneralisisikan
Tidak dapat digeneralisisikan
10. Struktur
Sudah memiliki struktur yang baku
Sedang mencari bentuk
C. KARAKTERISTIK PENDEKATAN KWANTITATIF DAN KWALITATIF DALAM PENELITIAN
1. Karakteristik Pendekatan Kuantitatif
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, pendekatan kuantitatif berdasarkan atas paradigma positivisme yang berpandangan bahwa peneliti dapat dengan sengaja mengadakan perubahan terhadap dunia sekitar dengan melakukan berbagai eksperimen. Para penganut positivisme percaya bahwa manusia dapat menemukan aturan-aturan, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip umum tentang dunia kenyataan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun dalam ilmu-ilmu sosial termasuk pendidikan. Hukum-hukum itu dapat ditemukan dari data empiris dengan menggunakan sampel yang representatif. Mereka juga berpendirian bahwa realitas itu dapat dipecah menjadi bagian-bagian dan hukum yang berlaku bagi bagian yang kecil juga berlaku untuk keseluruhan.
Adapun karakteristik pendekatan kuantitatif yang dilandasi oleh paradigma positivisme menurut Nasution (1998), Brannen (1999), Bryman (1998) Strauss dan Corbin (2002) adalah sebagai berikut : (a) logika eksperimen dengan memanipulasi variabel yang dapat diukur secara kuantitatif agar dapat dicari hubungan antara berbagai variabel. (b) mencari hukum universal yang dapat meliputi semua kasus, meskipun dengan pengolahan statistik dicapai tingkat probabilitas dengan mementingkan sampel untuk mencari generalisasi, (c) netralitas pengamatan dengan hanya meneliti gejala-gejala yang dapat diamati langsung dengan mengabaikan apa yang tidak dapat diamati dan diukur dengan instrumen yang valid dan reliabel. Netralitas memungkinkan penelitian itu direplikasi, (d) bersifat atomistik, yaitu memecah kenyataan dalam bagian-bagian dan mencari hubungannya, (e) bersifat deterministik, tertuju pada kepastian dengan mengadakan pengujian terhadap hipotesis, dan (f) tujuan yang pokok adalah mencapai generalisasi yang dapat digunakan untuk meramalkan atau memprediksi.
Di samping itu pendekatan kuantitatif juga dapat dijelaskan ciri-cirinya ditinjau dari operasionalisasinya, yaitu : (1) desain penelitian kuantitatif bersifat spesifik, jelas, rinci, hipotesis dirumuskan dengan tegas dan ditentukan secara mantap sejak awal untuk dijadikan pegangan bagi setiap langkah penelitian yang dilakukan, (2) tujuan penelitian kuantitatif adalah untuk menunjukkan hubungan antar variabel, menguji teori dan mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif, (3) instrumen penelitian menggunakan tes, angket, wawancara, dengan alat berupa kalkulator, komputer, dan sebagainya, (4) data penelitian bersifat kuantitatif yang diperoleh dari hasil pengukuran berdasarkan variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen, (5) sampelnya besar, representatif, dan diusahakan sedapat mungkin diambil secara random, (6) analisis data dilakukan pada tahap akhir setelah pengumpulan data selesai, bersifat deduktif dan menggunakan statistik, dan (7) hubungan antara peneliti dengan responden berjarak, sering tanpa kontak langsung.
  1. Karakteristik Pendekatan Kualitatif
Pendekatan kualitatif berdasarkan paradigma post-positivisme yang mengikuti jalan yang berbeda dengan paradigma positivisme. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dilaksanakan dalam situasi alamiah atau “natural setting” sehingga pendekatan ini juga disebut metode naturalistik. Pada hakekatnya pendekatan kualitatif itu adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan penafsiran mereka mengenai dunia sekitarnya. Untuk itu peneliti harus terjun ke lapangan dan berada di tengah-tengah mereka dalam waktu yang cukup.
Menurut Nasution (1998), Suryabrata (1999), Moleong (1999), Bogdan dan Biklen (2002), Lincoln dan Guba (2003), pendekatan kualitatif memiliki karakteristik sebagai berikut: (a) sumber data adalah situasi alamiah, peneliti mengumpulkan data berdasarkan observasi situasi sebagaimana adanya, langsung berhubungan dengan situasi dan orang yang diteliti, (b) peneliti merupakan alat pengumpul data utama sehingga disebut “key instrument”. Sebagai instrumen utama, peneliti dapat memahami interaksi antar manusia, mengetahui gerak roman muka, menyelami perasaan dan nilai yang terkandung dalam ucapan dan kegiatan responden, (c) bersifat deskriptif sehingga datanya dituangkan dalam bentuk uraian, (d) mengutamakan proses dari pada hasil, karena dengan mengamati proses tersebut, maka hubungan antara bagian-bagian yang diteliti akan jauh menjadi lebih jelas, (e) sampelnya purposif tidak bersifat random dan jumlahnya sedikit tetapi dipilih orang-orang yang benar-benar mengetahui permasalahan (key person) sesuai dengan tujuan penelitian, (f) mengutamakan data langsung atau first hand dan mencari makna dibalik perilaku, (g) partisipasi tanpa mengganggu, artinya untuk memperoleh situasi alamiah, peneliti tidak menonjolkan diri saat melakukan observasi agar tidak dianggap sebagai “orang luar” sehingga tidak mengganggu kewajaran situasi, (h) mengutamakan perspektif emik, yaitu mengutamakan pandangan responden dan bukan pandangan peneliti (perspektif etik), (i) trianggulasi, yaitu mengadakan uji validitas data kualitatif dengan mengadakan pengecekan tentang kebenaran data yang diperoleh dari satu responden dengan responden lain yang dipandang juga mengetahui kebenaran data tersebut, dan (j) analisis data bersifat induktif.
Di samping itu, ditinjau dari segi operasionalisasinya penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif juga dapat diidentifikasi ciri-cirinya, yaitu: (1) desain penelitian kualitatif bersifat umum, singkat, fleksibel, dan berkembang dalam proses penelitian, serta tidak ada hipotesis (2) tujuan penelitian adalah untuk memperoleh pemahaman makna verstehen, menggambarkan realitas yang kompleks, (3) teknik penelitian adalah dengan observasi berpartisipasi dan wawancara mendalam sehingga bersifat deskriptif, (4) analisis data dilakukan secara terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian dan bersifat induktif, dan (5) hubungan antara peneliti dengan responden adalah akrab, empati, dan kedudukannya sama.
DAFTAR PUSTAKA
Kartini Kartono. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung: Mandar Maju.
Nasir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta.
Winarno Surakhmad. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar, Metode, Teknik. Bandung: Tarsito

Oleh: Drs. Sumani, M.M.
Sumber: https://showmany.wordpress.com/2008/11/21/metodologi-penelitian-kuantitatif/